Judul Buku :TRANSFORMASI PENGELOLAAN DESA WISATA INDONESIA
Nama Penulis : Dian Kusdiana
Jumlah Halaman : 226 Halaman
Harga :Rp. 120.000
Desa wisata sering dipandang sebagai jalan cepat menuju kesejahteraan. Dengan pemandangan indah, budaya yang hidup, kuliner lokal, dan keramahan warga, desa seolah memiliki semua bahan untuk menjadi destinasi. Namun, pariwisata tidak pernah datang sendirian karena membawa harapan, uang, peluang kerja, sekaligus risiko: konflik, ketimpangan, sampah, komersialisasi budaya, dan hilangnya kendali masyarakat atas ruang hidupnya.
Pembaca diarahkan untuk melihat desa wisata melalui sudut pandang yang berbeda. Bukan sebagai objek yang harus dijual, tetapi sebagai ekosistem kehidupan yang perlu dikelola dengan hati-hati. Melalui pendekatan pengalaman bermakna, tata kelola kolaboratif, kepemilikan masyarakat, ekonomi lokal berkeadilan, perlindungan budaya, keberlanjutan lingkungan, dan digitalisasi yang memanusiakan, buku ini menawarkan arah transformasi pengelolaan wisata desa Indonesia.
Buku ini penting bagi pemerintah, pengelola pariwisata desa, Pokdarwis, BUM Desa, akademisi, pelaku usaha, pendamping desa, dan siapa pun yang percaya bahwa masa depan pariwisata Indonesia berada di kota besar dan destinasi populer, sekaligus di desa-desa yang mampu menjaga jati dirinya.
Banyak desa wisata berkembang lebih cepat daripada kesiapan kelembagaannya. Jumlah kunjungan sering dijadikan ukuran keberhasilan, padahal belum tentu mencerminkan kesejahteraan warga. Pariwisata membawa perubahan sosial yang harus dibaca sejak awal. Budaya dan lingkungan desa terlalu berharga untuk diperlakukan sekadar sebagai dekorasi wisata.
Jalan tengah antara gagasan akademik dan praktik lapangan menjadi pendekatan utama. Pembaca akan menemukan narasi, contoh, model, dan instrumen yang membantu desa menata diri tanpa kehilangan keaslian. Tidak ada resep instan yang dijanjikan; yang ditawarkan ialah cara berpikir, cara membaca desa, dan cara mengelola perubahan.
Relevansi lain muncul karena pariwisata desa sering terjebak pada bahasa program. Banyak istilah terdengar megah, tetapi tidak selalu membantu warga memahami apa yang harus dilakukan. Karena itu, bahasa yang dipilih lebih dekat dengan kehidupan agar gagasan besar dapat diterjemahkan menjadi keputusan kecil yang dapat dijalankan.
